CIRACAS (Pos Kota) – Sebanyak 56 bangunan liar yang dijadikan tempat prostitusi dan lapo tuak, di belakang terminal bus Kampung Rambutan atau tepatnya di bantaran Kali Cipinang di RT 03/06 Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur ditertibkan, dibongkar paksa petugas Kecamatan Ciracas.
Bangunan yang berada disepanjang 1000 meter itu, telah berdiri sejak 10 tahun lalu. Satu per satu, bangunan semi permanen ini dirobohkan puluhan anggota Satpol PP. Sementara para pemilik bangunan pun hanya bisa pasrah, memandangi bangunan tempat usaha sekaligus tempat tinggalnya itu dirobohkan. “Kalau malam, selain dijadikan lapo, bangunan liar ini diindikasikan sebagai tempat prostitusi terselubung. Makanya kita tertibkan hari ini,” ujar Camat Ciracas Romi Sidharta.
Dalam operasinya, para PSK itu menyamar berjualan kopi, berkeliling di dalam terminal. Namun mereka sambil menjajakan diri dan jika ada yang berminat maka lelaki hidung belang langsung diajak ke bangunan liar yang ada di bantaran Kali Cipinang itu. Sasaran mereka adalah sopir, kondektur dan penumpang yang ada di terminal itu.
Dikatakan Camat, rencananya, lahan bekas bangunan liar ini akan ditanami pohon agar kawasan tersebut tak kembali dibangun. Namun ke depan pihaknya akan koordinasi dengan Sudin PU Tata Air Jakarta Timur agar bantaran kali dikeruk. “Akibat adanya bangunan liar ini juga, kali Cipinang mengecil. Akibatnya, setiap musim hujan, air dari kali tersebut meluap dan menggenangi kawasan Terminal Kampung Rambutan yang mencapai ketinggian 50 sentimeter,” ujar Romi.
Buyung 50, seorang warga RT 003/06 Rambutan, mengaku senang dengan penertiban tersebut. Sebab selama ini memang banyak tempat prostitusi terselubung. Padahal di seberang kali banyak anak-anak usia sekolah dan dikhawatirkan terganggu mentalnya.
“Memang sudah lama warga mengeluh karena banyak bangunan liar yang dijadikan tempat prositusi. Bahkan kalau malam berisik dengan suara musik yang sangat kencang,” ujar Buyung.
Sementara itu, Kepala terminal Kampung Rambutan, Dwi Basuki mengatakan, segera menutup pagar tembok yang dilubangi warga. Agar warga tidak keluar masuk lagi dan memanfaatkan lahan di pinggir kali. Namun ia mengaku tidak tahu kalau ada prostitusi di kawasan bangunan liar itu.
“Kita belum pernah menemukan adanya praktik prostitusi. Kalau malam juga sulit dideteksi karena prakteknya terselubung. Masa kalau jualan kopi kita usir, kan tidak mungkin,” ujar Dwi Dasuki.
(ifand/sir)
0 Comments